Perjalanan menuju Kalibiru Raja ampat Papua barat
Perjalanan ini dimulai awalnya tak terencana, hanya melaksanakan tugas awal pekerjaan di Waisai, setelah pekerjaan selesai, terbersitlah rencana untuk berangkat kesana ke Teluk Mayalibit, dengan meminjam motor salah satu teman kerja, berangaktlah kami, perjalanan sekitar satu jam kurang, naik turun tanjakan yg lumayan berbahaya kalo kurang hati-hati mengendarai motor karna tikungan sangat tajam, kami mengendarai motor matic, yang lumayan tidak terlalu pakem rem nya, seru agak menyeramkan buat kami sungguh perjalanan itu, setelah tiba di desa Warsambin, kami parkir motor lalu 2 orang warga setempat mendatangi kami dan langsung menawarkan perjalan ke kalibiru yang kami tuju dengan perahu kecil dan biaya sebesar 700 ribu per orang, dengan beberapa spot seperti kolam atau danau Ajelle, batu kolam berbentuk mangkok atau biasa disebut batu mangkok dan indarioq titik-titik spot ini menurut cerita baru diketahui belakangan ini sekitar tahun 2018, tidak seperti pianemo atau spot lain yang pernah kami kunjungi,disini masih sepi belum begitu banyak orang yang tau, karna modal nekat dan begitu penasarannya kami terhadap spot-spot yg baru ini makanya kamu datangi
Ada cerita lucu pada saat mau naik kapal perahu sampan sekecil ini yang hanya bisa mengangkut empat sampai lima orang, kami tidak tahu kalau naik nya harus satu persatu karna ketidaktahuan itulah pada saat naik bersamaan perahu sampan oleng, dan kami semua hampir jatuh karna perahu miring dan oleng , kami berteriak sampai orang-orang desa berhamburan lari menyampiri kami semua di kapal, tapi untunglah setelah perahu di seimbangkan kami semua tidak jadi jatuh, dalam hati ini berkata" waduh belum apa-apa saja kami sudah seperti ini heheheh ketawa dalam hati", akhir nya perjalanan dimulai, tapi tetap dalam hati kami deg-degan, sampai-sampai kami tidak berani bergerak diperjalanan pertama menuju kali biru, kami di suguhkan pemandangan yang sangat cantik dan elok, serta suara-suara burung yang bersahut-sahutan,Setelah tiba kami masih harus menambatkan perahu, lalu berjalan kaki sekitar lima belas sampai dua puluh menit, ada gajebo dan tempat ganti hanya tidak ada air untuk bilas, tidak toilet juga, tapi kami tidak mengindahkannya karna kami sangat senang sekali dengan pemandangan yang indah yang kami lihat dan rasakan, air yang begitu biru, jernih, dingin, segar, serta suara-suara burung, pepohonan yang hijau dan menarik, ada satu larangan untuk kami dan pengunjung yang datang,kami tidak boleh berenang ke sumber air atau mata air , karna sumber mata air itu harus tetap terjaga, arus air nya juga deras, mereka katakan boleh mengambila dari mata air untuk obat, desa setempat percaya air sumber mata air itu bisa untuk obat, tapi harus orang yang mengantar yang mengambil nya tidak boleh sembarang orang, setelah puas kami mandi dan bermain air serta berswafoto, kami melanjutkan perjalanan kami ke spot lain nya yaitu Batu Mangkok, batu mangkok adalah kolam berbentuk mangkok
dengan lekukan-lekukan halus alami membuat kami terperangah dan takjub kembali akan keindahan bagaimana batu-batu ini bisa terbentuk secara alami, air nya sangat dingin dan segar, batu-batu berlekuk mangkok ini, berada di daerah pertemuan antara laut dan bukit batu mangkok, jadi air yang mengalir dari atas bukit batu mangkok ini tertampung lalu mengalir kelaut menjadi air payau, hanya tinggal duduk diperbatasan ujung batu kami bisa merasakan dua rasa air yang berbeda, tangan disebelah kiri air tawar dan disebelah kanan tangan air laut. Setelah itu kami lanjut perjalanan kembali menuju ke kolam atau danau ajelle, dengan perjalanan menuju kolam danau ajelle begitu hati-hati dikarnakan sangat licin, tapi untung nya ada tali untuk berjalan menuju kesana selama perjalanan kami disuguhkan oleh pemandangan batu dan tebing-tebing yang tinggi dan indah seperti memasuki sebuah goa, lagi-lagi kami mengagumi keindahan sekitar, dengan kolam air yang biru kehijau-hijauan, dengan air yang begitu segar rasanya tawar dan dingin, kami tidak berenang, karna agak gelap dan dalam kolam nya itu, setelahnya kami berangkat kembali menuju indarioq, jarak antara satu spot ke spot lainnya itu berkisar sepuluh sampai lima belas menit, dengan perahu kecil yang kami tumpangi, di Indarioq km bersantai menikmati pemandangan seperti di Pianemo hanya saja indarioq anak tangga nya tidak beratus-ratus anak tangga seperti di Pianemo, disini lebih tenang, agak rendah pemandangan nya, ada bangku untuk duduk-duduk dan bersantai bentuknya seperti rumah pohon. Setelah puas menikmati alam, kami pun bergegas kembali pulang , karna kami pulang mengendarai motor, kami tidak mau kemalaman dijalan mengingat sepanjang perjalanan kami berangkat tidak ada lampu diperjalanan, kami takut nya kemalaman dijalan, kami berangkat dari Waisai pukul sembilan pagi , perjalanan dengan motor memakan waktu sekitar setengah jam lebih, kami pulang jam tiga sore sampai di.waisai jam empat langsung makan bakso di dekat pantai WTC (Waisai Torang Cinta) lumayan setengah menguras energi kami berkeliling titik-titik spot terbaru itu, kami merasa sangat senang dan berjanji akan kembali kesana suatu saat nanti.
dengan lekukan-lekukan halus alami membuat kami terperangah dan takjub kembali akan keindahan bagaimana batu-batu ini bisa terbentuk secara alami, air nya sangat dingin dan segar, batu-batu berlekuk mangkok ini, berada di daerah pertemuan antara laut dan bukit batu mangkok, jadi air yang mengalir dari atas bukit batu mangkok ini tertampung lalu mengalir kelaut menjadi air payau, hanya tinggal duduk diperbatasan ujung batu kami bisa merasakan dua rasa air yang berbeda, tangan disebelah kiri air tawar dan disebelah kanan tangan air laut. Setelah itu kami lanjut perjalanan kembali menuju ke kolam atau danau ajelle, dengan perjalanan menuju kolam danau ajelle begitu hati-hati dikarnakan sangat licin, tapi untung nya ada tali untuk berjalan menuju kesana selama perjalanan kami disuguhkan oleh pemandangan batu dan tebing-tebing yang tinggi dan indah seperti memasuki sebuah goa, lagi-lagi kami mengagumi keindahan sekitar, dengan kolam air yang biru kehijau-hijauan, dengan air yang begitu segar rasanya tawar dan dingin, kami tidak berenang, karna agak gelap dan dalam kolam nya itu, setelahnya kami berangkat kembali menuju indarioq, jarak antara satu spot ke spot lainnya itu berkisar sepuluh sampai lima belas menit, dengan perahu kecil yang kami tumpangi, di Indarioq km bersantai menikmati pemandangan seperti di Pianemo hanya saja indarioq anak tangga nya tidak beratus-ratus anak tangga seperti di Pianemo, disini lebih tenang, agak rendah pemandangan nya, ada bangku untuk duduk-duduk dan bersantai bentuknya seperti rumah pohon. Setelah puas menikmati alam, kami pun bergegas kembali pulang , karna kami pulang mengendarai motor, kami tidak mau kemalaman dijalan mengingat sepanjang perjalanan kami berangkat tidak ada lampu diperjalanan, kami takut nya kemalaman dijalan, kami berangkat dari Waisai pukul sembilan pagi , perjalanan dengan motor memakan waktu sekitar setengah jam lebih, kami pulang jam tiga sore sampai di.waisai jam empat langsung makan bakso di dekat pantai WTC (Waisai Torang Cinta) lumayan setengah menguras energi kami berkeliling titik-titik spot terbaru itu, kami merasa sangat senang dan berjanji akan kembali kesana suatu saat nanti.










Komentar
Posting Komentar